BandungKlik – Kampung Budaya Sindangbarang yang berada di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor diklaim sebagi kampung tertua sejak abad XII. Hal tersebut berdasarkan sumber literasi Pantun Bogor dan Babad Pajajaran.

Dikenal sebagai kampung adat yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat leluhur ini, merupakan salah satu dari 20 kampung adat yang ada di Jawa Barat. Warganya pun masih mempertahankan aspek kebudayaan lokal Kerajaan Pajajaran.

Di sana terdapat 78 lokasi situs sejarah Pakuan Sindangbarang, upacara tradisional seperti upacara adat Serentaun, upacara adat Neteupken, upacara adat Pabeasan, dan berbagai upacara adat lainnya. Serta memiliki berbagai kesenian tradisional Sunda.

Ritual tradisi Sunda yang menjadi ciri khas Kampung Budaya Sindangbarang, yakni upacara adat Serentaun. Serentaun merupakan suatu bentuk penjelmaan rasa syukur warga atas rezeki hasil panen mereka.

Upacara adat Serentaun telah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran pada abad ke 16 dan masih berlangsung hingga kini. Dilaksanakan tiap tahun dan dipimpin ketua adat kampung adat ini.

Catatan pada tahun 1971 menyebutkan, setelah ketua adat terakhir Etong Sumawijaya wafat dan tidak ada regenerasi, maka gelaran Serentaun tidak dilaksanakan secara akbar dan terpusat. Namun digelar secara mandiri oleh masyarkat yang masih mempercayainya.

Silakan baca: Mengenal Sejarah Perjuangan di Museum PETA Bogor

Selanjutnya, pada tahun 2006 Serentaun kembali dilaksanakan terpusat setelah adanya pengakuan kembali ketua adat karena inisiatif beberapa kelompok adat yang ingin melestarikan budaya Sunda di Sindangbarang. Kelompok itu tergabung dalam Padepokan Giri Sunda Pura Sindangbarang.

Penyelenggaraan Serentaun kala itu pun mendapat respon positif dari masyarakat. Sehingga menarik perhatian pemerintah karena berkaitan dengan perhatian pada pelestarian budaya Sunda. Dengan dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten serta masyarakat setempat, akhirnya mereka dapat membuat suatu kawasan budaya Kampung Budaya Sindangbarang.

Selain dari warisan budaya berupa ritual tradisi dan kesenian, kampung ini pun memiliki bangunan berarsitektur yang masih melestarikan bentuk aslinya di masa lampau. Salah satunya adalah Imah Gede, sebuah rumah besar yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah masyarakat dengan tetua adat dan para Kokolot, atau mereka yang dianggap sebagai sesepuh adat.

Ada pula bangunan unik lainnya, berupa rumah kecil tanpa pintu namun memiliki jendela pada sisi depan bagian atasnya. Bangunan tersebut berfungsi sebagat tempat penyimpanan hasil panen milik masyarakat. Umumnya disebut sebagai bangunan ‘leuit’ di kampung adat Sunda lainnya.

Wisatawan yang datang juga bisa tinggal bersama para Kokolot dan merasakan suasana kehidupan perkampungan tradisional Sunda. Sekaligus mempelajari berbagai macam kesenian Sunda termasuk memainkan seperangkat gamelan yang tersedia di sana.

Silakan baca: Kasepuhan Cipta Mulya, Tetap Menjaga Tradisi Leluhur

Jika berkesempatan berkunjung ke Kampung Budaya Sindangbarang, wisatawan jangan lupa untuk tetap mematuhi protokol kesehatan.*

 

Sumber & Foto: Disparbud Jabar