Kampung Angklung Ciamis, Eksis Berdayakan Masyarakat

Kampung Angklung Ciamis
Seorang perajin sedang meraut bambu bahan baku angklung di Kampung Angklung Ciamis. (Iwan Gunaesa/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Kampung Angklung Ciamis eksis menjadi sentra produksi angklung berkat pemberdayaan masyarakat. Kemunculannya, dipelopori seorang perajin angklung bernama Alimudin yang akrab disapa Mumu Angklung.

Produk angklung dari kampung yang berlokasi di Kampung Nempel, Desa Panyingkiran, Ciamis ini, mempunyai standar nada seperti pada umumnya. Namun memiliki ciri khas berupa ukiran lukisan batik di badan angklung dan berbahan bambu kering.

Eksistensi sentra angklung Ciamis diawali dari usaha Mumu yang memproduksi berskala kecil pada 1992. Seiring waktu, angklung buatannya mulai dilirik pasar domestik sampai pesanan mulai meningkat.

Dari situ, Mumu mengajak masyarakat setempat untuk ikut bersama-sama memproduksi angklung, sehingga pesanan bisa terpenuhi. Ia pun berhasil membina sekitar 100 lebih perajin angklung. Dan usaha pembuatan angklung menjadi mata pencaharian  masyarakat.

Silakan baca: Galendo, Oleh-oleh Khas Ciamis, Jawa Barat

Setelah banyaknya perajin angklung ditambah bahan baku bambu yang melimpah, Mumu berinisiatif untuk merintis daerahnya menjadi Kampung Angklung pada 2014. Dua tahun kemudian, Kampung Nempel diakui menjadi Kampung Angklung oleh Pemkab Ciamis.

Sejak saat itu, produk angklung semakin merambah ke seluruh Indonesia. Terutama pasar wisata, seperti Bali, Lombok, Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Setiap hari mereka bisa memproduksi 20 set angklung. Pesanan terbanyak terjadi saat peringatan Konperensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, mencapai angka 20 ribu angklung.

Meski tak melakukan ekspor langsung, angklung tersebut pernah menembus pasar Asia, yaitu ke Jepang pada 2004. Waktu itu, Mumu bekerja sama dengan sebuah perusahaan dan yayasan.

Hingga kini, Kampung Angklung tak pernah sepi pesanan. Bahkan kerap dikunjungi wisatawan dan peneliti budaya. Di sana wisatawan bisa melihat proses produksi, disuguhi alunan musik angklung, dan diberi pelatihan untuk membuat angklung sendiri. Hasilnya bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh.*