Kampung Adat Cireundeu dan Makanan Pokok “Rasi”

kampung adat cireundeu
Gerbang masuk Kampung Adat Cireundeu. (disparbud.jabarprov.go.id).*

 

Bandung Klik – Jika umumnya makanan pokok masyarakat Jawa Barat dan Indonesia adalah nasi beras, lain halnya dengan masyarakat di Kampung Adat Cireundeu. Masyarakat setempat menjadikan rasi sebagai makanan utama sehari-hari.

Rasi merupakan beras dari singkong dan diolah menjadi nasi. Beralihnya kebiasaan mengkonsumsi rasi telah berlangsung lebih dari seabad tepatnya sejak tahun 1918.

Berawal dari sulitnya memperoleh beras saat zaman penjajahan sehingga warga tak lagi menyimpan beras. Mereka memutuskan untuk mengganti beras dengan bahan lainnya dari umbi-umbian seperti ubi dan talas. Akan tetapi, karena tidak bertahan lama warga terus mencari pengganti hingga akhirnya menemukan singkong. Selain bisa ditanam juga dapat diolah dan bertahan lama.

Dikutip dari laman disparbud.jabarprov.go.id, pelopor yang mengubah kebiasaan tersebut adalah seorang ibu bernama Omah Asnamah. Berkat kepeloporannya mengembangkan makanan pokok nonberas, ia beroleh predikat “Pahlawan Pangan” pada 1964 yang diberikan pemerintah melalui Wedana Cimahi.

Secara administratif, Kampung Adat Cireundeu termasuk Kelurahan Leuwigajah Kota Cimahi. Menuju kampung ini relatif mudah dan dapat ditempuh sekira 30 menit dari pintu keluar tol Baros.

Sebagian besar masyarakat kampung adat ini memeluk dan memegang teguh kepercayaan Sunda Wiwitan. Masyarakat adat konsisten dalam menjalankan ajaran kepercayaan dan adat istiadat secara turun-temurun.

Bermukim di lahan seluas 64 hektare di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu, masyarakat Kampung Adat Cireundeu bermata pencaharian bertani ketela atau singkong.

Jika kebetulan berkunjung pada malam Syura atau Tahun Baru Saka Sunda, wisatawan dapat menyaksikan aktraksi budaya berupa Upacara Syuraan. Atraksi ini berlangsung saban tahun.

Meski tidak memposisikan sebagai objek daya tarik wisata, Kampung Adat Cireundeu menawarkan wisata edukasi yang menarik dan berbeda. Kampung adat ini lebih fokus memelihara tradisi lama yang telah mengakar sebagai warisan leluhur.

Masyarakat Kampung Cireundeu sangat teguh menjunjung tradisi. Mereka beranggapan, sekecil apapun filosofi kehidupan yang diwariskan nenek moyang mereka wajib dipertahankan. *

Silakan baca:

Kasepuhan Cipta Mulya, Tetap Menjaga Tradisi Leluhur