BandungKlik – Istana Bogor, satu dari enam istana kepresidenan Republik Indonesia dengan segala keunikannya. Dulu, istana ini menjadi salah satu tempat favorit Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk sekadar istirahat dari ramainya Batavia.

Terletak di pusat Kota Bogor yang beriklim sedang berhawa sejuk, istana anggun ini berdiri di atas tanah berkontur datar sekira 28,86 hektare.

Apa yang melatarbelakangi pembangunan istana ini?

Gagasan pembangunan istana berawal dari perjalanan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Gustaaf Willem Baron van Imhoff. Waktu itu, 10 Agustus 1744, ia mencari lokasi untuk peristirahatan. Van Imhoff lalu menemukan sebuah tempat yang baik dan berudara sejuk di Kampong Baroe.

Terkesan lokasi tersebut, pada 1745 ia memerintahkan pembangunan sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg yang berarti bebas masalah atau kesulitan. Sketsa awal Buitenzorg dibuat sendiri Imhoff dengan meniru arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris.

Renovasi

Setelah lebih dari 60 tahun digunakan, Pemerintah Hindia Belanda melakukan renovasi bangunan istana. Renovasi dilakukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Gedung Buitenzorg diperluas dengan memperlebar bagian kiri dan kanan. Gedung induk dijadikan dua tingkat.

Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826). Salah satu yang menonjol dari perubahan ini adalah dibangunnya menara di tengah-tengah gedung induk. Saat itu, lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya.

Fisik istana seperti bentuk sekarang dibangun dan dirampungkan pada masa Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Istana baru ini dibuat setelah bangunan awal rusak berat karena gempa bumi tahun 1834. Bangunan lama yang terkena gempa dirobohkan dan dibangun kembali menjadi bangunan baru satu tingkat dengan gaya arsitektur Eropa abad ke-19.

Silakan baca : Monumen Lady Raffles, Tanda Cinta Sang Gubernur Inggris

Sejak 1870 Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Sebanyak 44 Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah menempati istana anggun nan megah itu. Terakhir, ditempati Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer yang harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang.

Setelah kemerdekaan, sejak Januari 1950 hingga sekarang, Istana Buitenzorg yang berganti nama menjadi Istana Bogor digunakan Pemerintah Republik Indonesia. Fungsinya berubah menjadi istana kepresidenan serta menjadi kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. *

 

Silakan baca : Berikut 6 Tempat Rekreasi Ramah Anak di Bogor