HUT ke-16 Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng

hut ke-16 paguyuban sapedah baheula bandoeng
Sejumlah anggota PSBB bersepeda di Jalan Diponegoro Kota Bandung pada momentum HUT ke-16 PSBB, Minggu (31/1/2021). (Rawi/PSBB).*

 

BandungKlik – HUT ke-16 Paguyuban Sapedah Baheula  Bandoeng (PSBB) dilalui tanpa perayaan meriah, tak seperti tahun-tahun sebelumya. Mengingat, situasi dan kondisi saat ini tidak memungkinkan menggelar keramaian.

“Karena situasi pandemi Covid-19, peringatan hari jadi PSBB tercinta ini akan kami lewati tanpa perayaan meriah. Meski begitu, kami bersyukur PSBB tetap hadir dan sudah berkiprah selama 16 tahun,” tutur Residen PSBB Wahab Romli di Jalan Merdeka Kota Bandung, Minggu (31/1/2021).

Enambelas tahun lalu,  tepat hari ini—31 Januari 2005, PSBB dibentuk dan didirikan sebagai paguyuban yang menghimpun para penggemar sapedah baheula (sepeda tua).

Kata Romli, waktu 16 tahun bukan waktu yang singkat. Ada banyak berita bahagia, berita duka, perbedaan pendapat, perselisihan, pertemuan hingga perpisahan. Semua itu, katanya, menjadi rangkaian cerita dan cerminan yang bakal semakin menguatkan PSBB di masa mendatang.

hut ke-16 paguyuban sapedah baheula bandoeng
Residen PSBB Wahab Romli. (Rawi/PSBB).*

Meskipun saat ini wabah melanda, di balik HUT ke-16 PSBB tetap ada makna yang harus dijaga. Kebersamaan sebagai keluarga besar PSBB selama 16 tahun adalah makna yang sesungguhnya. Sesuai dengan motto paguyuban, “Baheula, Ayeuna, Baraya Salawasna.” Menjaga jarak dan menghindari kerumunan bukan berarti memutuskan silaturahmi.

Begitu pun dengan bersepeda alias ngaboseh tetap bisa berjalan walau secara mandiri atau terbatas. Kata residen yang sepeda Simplex-nya pernah dikayuh Presiden Jokowi, bersepeda dibolehkan asalkan menerapkan protokol kesehatan.

“Olahraga bersepeda juga penting untuk menjaga dan meningkatkan imunitas. Yang paling utama, kami mengimbau seluruh anggota untuk menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari berkerumun,” katanya.

Itulah mengapa pada HUT ke-16 PSBB tidak ada perayaan yang meriah. Hanya anggota dengan jumlah terbatas yang hadir, bersepeda dan doa bersama. Aktivitas hari ini diawali dengan bersepeda bersama dari Gedung Merdeka menuju Gedung Sate.

Silakan baca:

Museum Gedung Sate, Riset Hingga ke Belanda

hut ke-16 paguyuban sapedah baheula bandoeng
Sejumlah anggota PSBB bersepeda pada momentum HUT ke-16 PSBB di Jalan Ir Soekarno Kota Bandung, Minggu (31/1/2021). (Rawi/PSBB).*

Adapun tema HUT PSBB yang diusung pada tahun ini adalah “Cunduk waktu nu rahayu, mapag wanci nu mustari”.

Sementara itu Yahya Johari—salah seorang pendiri PSBB mengatakan, PSBB tetap berpegang teguh pada kesamaan hobi, kebersamaan, dan kekeluargaan.

Menghimpun para penggemar sepeda tua dari berbagai latar belakang sosial dalam satu rumah bukanlah perkara mudah. Namun, sepeda adalah media yang universal. Dengan media sepeda, kata Aboy, paguyuban terus membingkai jalinan kekeluargaan baik di lingkungan internal maupun eksternal dengan komunitas lain.

“Mudah-mudahan eksistensi PSBB senantiasa memberikan kontribusi positif terutama bagi Kota Bandung sekarang dan masa mendatang. Tentunya, dengan terus menciptakan hubungan sosial yang baik melalui sepeda tua sebagai alatnya,” kata Aboy. *

Silakan baca:

Mengayuh Sepeda Mengenang Sejarah Ala PSB Bandung