BandungKlik – Beberapa hari terakhir masyarakat khususnya pelaku wisata dan traveler dalam negeri dihebohkan oleh wacana kenaikkan tiket masuk Candi Borobudur.

Ramainya perbincangan ini dikarenakan munculnya rencana harga tiket masuk Candi Borobudur yang dilontarkan oleh Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Rencananya naik menjadi Rp750.000 untuk turis domestik dan $100 Amerika Serikat untuk turis luar negeri.

Salah satu alasan utama rencana tersebut adalah pelestarian bangunan cagar budaya yang berlokasi di Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Terlebih, candi Budha terbesar dan termegah di dunia itu termasuk dalam Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Akan tetapi, wacana kenaikkan harga tiket ini batal setelah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertemu dengan Luhut Binsar Pandjaitan. Tentu saja, salah satu pembicaraannya adalah mengenai harga tiket masuk objek wisata candi berusia hampir 1200 tahun tersebut.

Akhirnya, sementara ini disepakati, harga tiket masuk Candi Borobudur batal naik. Artinya harga tiket masuk tetap Rp50.000 untuk wisatawan Nusantara dan $25 Amerika Serikat untuk wisatawan mancanegara. Sementara itu, untuk pelajar grup studi tur bukan perorangan harga tiket masuknya Rp5.000.

Zonasi kawasan

Dikutip dari laman Kemenparekraf, pada dokumen rencana pengelolaan Candi Borobudur terdapat zonasi yang digunakan sebagai dasar nominasi kawasan ini sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Ada lima zonasi yang mencakup area melingkar sejauh 5 km dari Candi Borobudur.

Zona 1 merupakan zona inti (sanctuary zone). Dengan luas  area sekitar 0,078 km persegi, zona ini berfungsi untuk perlindungan monumen dan lingkungannya. Pengelolanya adalah Balai Konservasi Borobudur dibawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Dengan luas area mencapai 0,87 km persegi, Zona 2 yang disebut sebagai zona penyangga (buffer zone) berfungsi untuk perlindungan lingkungan sejarah. Praktiknya, pengelolaan zona ini dilakukan oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko di bawah koordinasi Kementerian BUMN.

Adapun Zona 3 adalah zona pengembangan (development zone). Sementara Zona 4 (historical scenery preservation zone) merupakan zona perlindungan kawasan bersejarah. Begitu pun dengan Zona 5 dengan luas area mencapai 78,5 km persegi.

Menparekraf Sandiaga Uno berharap, Candi Borobudur lebih dari sekadar destinasi wisata. “Borobudur ini adalah peradaban kita dan ini adalah peninggalan sejarah, kelestarian budaya, bagaimana kita bisa memastikan Borobudur ini ramah terhadap lingkungan,” ujarnya.

Untuk itu, pihak Kemenparekraf akan mendorong kawasan penyangga di sekitar candi peninggalan Dinasti Sailendra yang dibangun antara 780 – 840 Masehi. Misalnya, destinasi wisata dan desa-desa wisata di sekitar candi sehingga wisatawan tidak terpusat untuk mengunjungi candi secara bersamaan.

“Kita memastikan Borobudur ini satu situs yang harus kita jaga,” kata Sandiaga. *

 

Silakan baca:

Trail of Civilization Kembangkan Travel Pattern Borobudur

Candi Borobudur, Inspirasi Peradaban Manusia