Hari Ini 14 Februari 1945: Pemberontakan PETA di Blitar

pemberontakan peta blitar
Monumen Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar. (blitar-raya.com).*

 

BandungKlik – Hari ini 14 Februari 1945, sebuah peristiwa sejarah penting terjadi di Blitar Jawa Timur. Pemberontakan yang dilancarkan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) tersebut tak dapat dihindarkan melawan kesewenang-wenangan.

Hal ini dilatarbelakangi kesengsaraan yang dialami rakyat Indonesia khususnya di Blitar.

Pendudukan Jepang pada waktu itu di bawah kekaisaran Jepang benar-benar bikin rakyat merana. Selain menanamkan kerja paksa alias romusha, juga merampas hasil bumi dan perlakuan rasial kepada pribumi.

Perlakuan yang brutal dan sadis itu tak hanya menimpa rakyat tetapi juga tentara PETA yang notabene bentukan Jepang. Para perwira PETA seringkali direndahkan oleh para syidokan yang melatih mereka dengan sikap congkak dan sombong.

Dikutip dari Masa Pendudukan Jepang di Indonesia, salah satu perlawanan PETA terjadi di Daidan (Batalion) Blitar. Daidan ini dibentuk pada 25 Desember 1943 dengan pemimpinnya Shodanco Supriyadi. Waktu itu, Supriyadi dikenal sebagai pencetus pemberontakan terhadap kekuasaan kekaisaran Jepang.

Penderitaan rakyat menimbulkan rasa prihatin dan nasionalisme dari para tentara PETA Blitar. Diceritakan, Supriyadi pernah menggelar rapat secara sembunyi-sembunyi beberapa kali di asrama PETA. Apa yang diungkapkannya pada pertemuan itu bahwa tujuan perlawanan adalah untuk mencapai kemerdekaan.

Pada pertemuan Januari 1945, muncul ide mengajak batalion PETA lain untuk memberontak. Namun, rencana ini tak berjalan sempurna. Rencana pemberontakan terendus Jepang meski sebatas desas-desus.

Supriyadi menghilang

Atas saran kawan-kawannya di asrama, Supriyadi disarankan tak kembali ke Blitar dan menghilang hampir tiga hari sejak 11 Februari 1945. Tepat hari ini 76 tahun yang lalu, dini hari 14 Februari 1945 dia muncul kembali di asrama. Tentu, kemunculan Supriyadi untuk menemui kawan-kawannya yang sudah sepakat untuk memberontak dengan menanggung segala risikonya.

Pasukan pemberontak PETA Blitar membagi diri menjadi tiga kelompok. Mereka mulai beraksi menghabisi tentara Jepang pukul 3.30 dini hari. Mortir dan rentetan peluru dari senapan mesin ditembakan dari asrama ke tentara Jepang.

Militer Jepang marah dibuatnya dan tak tinggal diam sampai mengerahkan pasukan bersenjata dan kendaraan lapis baja. Mereka memaksa mundur pasukan PETA hingga banyak yang menyerah.

Akhirnya, delapan orang dihukum mati dan sisanya dibui. Namun, tak ada Supriyadi di antara mereka  yang menyerah itu. Dia menghilang dan tidak diketahui nasibnya bahkan hingga saat ini. *

Silakan baca:

Nurtanio, Pelopor Industri Penerbangan Indonesia