Gereja Merah Dibangun dengan Sistem Bongkar Pasang

gereja merah
Gereja Merah dibangun dengan sistem bongkar pasang. Perakitannya dimulai pada tahun 1862 dan selesai 20 Juli 1863. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Gereja tua di Jalan Suroyo Kota Probolinggo ini berdiri menawan dengan warna merah menyala. Ya, Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB). Masyarakat lokal menyebutnya Gereja Merah.

Sebagai cagar budaya, kondisi bangunan terbilang cukup terawat. Bahkan, hampir seluruh bagian bangunannya masih asli. Restorasi atau perbaikan hanya dilakukan pada beberapa bagian yang rusak. Salah satunya kaca patri yang pecah diganti dengan yang baru.

“Kaca jendela yang pecah sudah kami perbaiki. Selain itu, semua masih asli termasuk tangga dan mimbar,” kata Kuasa dari Majelis Jemaat GBIP Jemaat Immanuel Probolinggo Cornelius Tahapary, tempo hari. Saat dijumpai, masih kata dia, lonceng yang digantung di menara juga masih yang lama.

Lalu, bagaimana gereja ini dibangun?

Tempat peribadatan umat Protestan ini punya panjang 22,5 meter dan lebar 10,5 meter. Gereja dibangun dengan menggunakan material dari pelat besi baja dan seng mulai dari struktur, dinding hingga atap. Penggunaan material semacam itu tentu menjadikan bangunan ini lain daripada yang lain. Pendek kata, berbeda dengan kebanyakan bangunan permanen yang didirikan pada masa pemerintah Hindia Belanda.

Material bangunan didatangkan dari Jerman melalui Belanda. Dari negeri kincir angin, tiap bagian material diangkut menggunakan kapal laut menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo dan mulai dirakit pada tahun 1862.

Silakan baca:

Gereja Zebaoth, Kebaktiannya Pernah Berbahasa Belanda

Selain unik dari segi material, konstruksi tidak menggunakan struktur beton seperti bangunan pada umumnya. Pasalnya, pembangunan dirancang dengan sistem bongkar pasang. Setiap sudut bangunan berlantai marmer tersebut disatukan dengan mur dan baut yang kuat.

Tak lebih dari setahun, bangunan bergaya arsitektur neoghotic ini selesai dirakit pada Senin, 20 Juli 1863. Sebermula, gereja dicat warna putih seperti nampak pada foto yang dipajang di ruang pastori. Ini adalah gereja tertua di Kota Probolinggo.

Bangunan sempat difungsikan sebagai gudang senjata pada masa pendudukan Jepang. Saat itulah seluruh bangunan gereja dicat merah—seperti warna merah pada bendera Jepang Hinomaru. Warna merah ini dipertahankan hingga sekarang.

bibel
Bibel berbahasa Belanda kuno yang ditulis 1618 – 1619 koleksi Gereja Merah Probolinggo. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

Rupanya, Gereja Merah menyimpan sejumlah benda bersejarah seperti  cawan dan Alkitab. Bibel tua dan tebal ini ditulis dengan bahasa Belanda kuno pada 1618 – 1619. Bibel dengan sampul dari kulit tersebut kondisinya masih terbilang baik meski beberapa lembar kertasnya ada yang terlepas dan sobek. *

Silakan baca:

Kuda Renggong Menari di Atas Kaki Sendiri