Gedung Sate Pembangunannya Habiskan 6 Juta Gulden

Gedung Sate
Gedung Sate nampak megah dan kokoh di usianya yang sudah menginjak 100 tahun. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Bagi  warga Bandung dan Jawa Barat, keberadaan Gedung Sate memberikan kebanggaan tersendiri. Apa sebab? Gedung ini adalah aset sejarah sekaligus bangunan paling anggun yang dibangun pada masa Hindia Belanda. Tak heran, D Ruhl dalam “Bandoeng en haar Hoogvlakte” (1952) mengatakan, “Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia (het mooiste gebouw van Indonesie).”

Dulu, warga Bandung biasa menyebut Gedung Sate dengan nama Hé Bé. Tak lain, sebutan tersebut merujuk pada singkatan Gouvernement Bedrijven (GB—dibaca Hé Bé). Bagi generasi muda sekarang, boleh jadi sebutan itu tak akrab di telinga bahkan mungkin terdengar asing.

Gedung Sate didirikan pada 27 Juli 1920 di Wilhelmina Boulevard (kini Jalan Diponegoro Kota Bandung). Seabad sudah. Sebermula, memang gedung ini dibangun sebagai pusat pemerintahan ketika Pemerintah Hindia Belanda merencanakan Kota Bandung sebagai ibu kota negeri jajahannya di Nusantara.

Gouvernement Bedrijven dirancang sedemikian matang oleh sebuah tim yang diketuai Kolonel Purnawirawan VL Slors. Tim ini beranggotakan antara lain arsitek J Berger, arsitek muda lulusan Technische Universiteit Delft Belanda EH De Roo dan In G Hendriks serta pihak Gemeente Bandoeng.

Salah satu sudut lobi Gedung Sate.

Tim bertugas merencanakan dan membangun berbagai gedung perkantoran untuk memindahkan 14 departemen dan instansi lainnya dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Selain perkantoran, tim merancang pembangunan kompleks perumahan untuk menampung sekira 1.500 pegawai pemerintah.

Peletakan batu pertama Gouvernement Bedrijven dilakukan oleh Juffrouw Johana Catherina Coops—putri sulung Wali Kota Bandung B Coops, dan Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum di Batavia.

Silakan baca: 

Gedung Sate Diserbu Tentara Sekutu

Gouvernement Bedrijven dibangun selama empat tahun dengan melibatkan 2.000 pekerja pribumi, 150 orang di antaranya pemahat batu nisan dan pengukir kayu asal Cina. Selebihnya adalah tukang batu, kuli aduk dan peladen—pekerja bangunan berpengalaman yang menggarap Technische Hoogeschool (Gedong Sirap/ kampus ITB). Mereka adalah penduduk Kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok, dan Cibaréngkok.

Bangunan Gouvernement Bedrijven membentang dan bersumbu lurus menghadap Gunung Tangkuban Parahu. Konon, tusuk sate dengan enam ornamen berbentuk jambu air di puncak menaranya melambangkan modal awal pembangunan sebesar 6 juta gulden. Dengan modal awal itu, dapat terselesaikan bangunan utama Gedung Sate, Kantor Pos Telegraf dan Telepon (PTT), Laboratorium, dan Museum Geologi serta Dinas Tenaga Air dan Listrik. *

Gedung Sate :

Luas lahan 27.990,859 m²

Luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari :

  1. Basement 3.039,264 m²
  2. Lantai I 4.062,553 m²
  3. Teras lantai I 212,976 m²
  4. Lantai II 3.023,796 m²
  5. Teras lantai II 212.976 m²
  6. Menara 121 m²
  7. Teras menara 205,169 m²