Gedung Sate Diserbu Tentara Sekutu

Monumen Gedung Sate Bandung
Monumen peringatan gugurnya tujuh pemuda saat mempertahankan Gedung Sate dari serangan tentara Sekutu pada 3 Desember 1945. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Brigjen Mac Donald mengeluarkan ultimatum pada 27 November 1945. Ultimatum yang ditujukan kepada penduduk Bandung itu berisi agar selambat-lambatnya 29 November 1945 pukul 12.00, unsur-unsur bersenjata Republik Indonesia sudah meninggalkan Bandung utara. Demarkasinya rel kereta api yang membelah Kota Bandung.

Dalam kesempatan Bandung terbagi dua, cerita RH Lily Sumantri dalam “Bunga Rampai” catatan peristiwa mengenang kembali masa pendudukan Jepang dan perjoangan menuntut kemerdekaan Indonesia, ribuan orang Cina mengungsi ke bagian utara dengan perlindungan tentara Sekutu dan pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Bagian utara Bandung dianggap sebagai daerah Inggris. Namun, sejumlah kantor pemerintahan seperti Balai Besar Kereta Api, Jawatan PTT dan Kantor Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum di Gedung Sate masih tetap dipertahankan. Memang, ultimatum Mac Donald tak diindahkan sehingga memicu kemarahan Inggris.

Silakan baca:

Gedung Sate Pembangunannya Habiskan 6 Juta Gulden

Waktu itu, Gedung Sate di Wilhelmina Boulevard (kini Jalan Diponegoro Kota Bandung) dipertahankan sekira 21 orang yang terhimpun dalam Gerakan Pemuda PU. Kata Lily, mereka dibantu satu peleton pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dari Kompi Poniman dan satu peleton dari Kompi Sudjana. Hanya saja bantuan pasukan ini tak berlangsung lama.

Pada 3 Desember 1945, sekira pukul satu dini hari, Gedung Sate diserbu Sekutu. Pertempuran pun berkecamuk.

Namun, ini adalah vuur contact tak seimbang. Pasukan Sekutu (Gurkha) menyerbu dengan menggunakan senjata modern dan otomatis. Kendati begitu, Gedung Sate dipertahankan sekuat tenaga meski dengan persenjataan yang minim. Para pemuda tak mau menyerah begitu saja, melainkan melakukan perlawanan mati-matian hingga darah penghabisan.

Prasasti peringatan tujuh pemuda yang gugur dalam mempertahankan Gedung Sate dari serangan tentara Sekutu pada 3 Desember 1945. *

Pihak Sekutu akhirnya merebut Gedung Sate. Pada pertempuran itu diketahui tujuh pemuda gugur dan dikubur di halaman gedung tersebut. Mereka adalah Suhodo, Didi, dan Muchtaruddin yang dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sementara jenazah Rana, Subengat, Surjono, dan Susilo tidak ditemukan.

Peristiwa 3 Desember 1945 ini tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan khususnya sejarah perkembangan Departemen Pekerjaan Umum. Peristiwa ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Umum. *