Film Preserving The Séké Raih Award di Festival Film Manhattan

Film Preserving The Séké

 

BandungKlik – Film dokumenter Preserving The Séké (PTS) asal Kota Bandung meraih penghargaan (award) dari International Film Festival Manhattan (IFFM) pada 14 Oktober 2021 lalu. Film ini mengisahkan penyelamatan séké (mata air/Sunda) di Hutan Ledeng, Cidadap, Kota Bandung.

Penghargaan yang disabet untuk kategori penyutradaan. Irwan Zabonx, sutradara film tersebut meraih Gerry Balasta Advocacy Award. Film ini merupakan film Indonesia pertama dalam festival film di Amerika serikat.

“Preserving The Séké merupakan film Indonesia pertama yang mengikuti festival film musiman di Amerika Serikat,” tutur Luis Prdron, Direktur IFFMS.

Menurut Zabong, film Preserving The Séké ini digarap bersama para pecinta lingkungan, budayawan dan seniman Kota Bandung.

“Kami membuatnya hanya empat hari dan durasinya hanya 11 menit,” jelas Zabonk dalam siaran persnya.

Ia juga menambahkan, penghargaan ini merupakan wujud kolektivitas dari semua yang terlibat di film ini tanpa pamrih. Sebagai bonus dari gerakan penyelamatan Gedong Cai dan séké di Hutan Ledeng.

“Untuk bisa lolos ke festival film di Manhattan saja kami sudah bersyukur. Karena misi utama kami adalah menyampaikan pesan pelestarian lingkungan dari Kota Bandung untuk dunia,” ujarnya.

Silakan baca: 10 Film Indonesia Terlaris dengan Penonton Terbanyak

Film Preserving The Séké mengisahkan pesan amanat kabuyutan yang dibalut seni budaya kasundaan ini, rencananya akan dijadikan media edukasi pelestarian alam kepada masyarakat. Tidak hanya di Kota Bandung, tapi juga di berbagai wilayah di Jawa Barat.

Hutan Ledeng, Cidadap

Di Hutan Ledeng, Cidadap, Kota Bandung terdapat puluhan séké. Hingga kini masih mengalirkan air dan dimanfaatkan oleh sebagian warga Kota Bandung di kawasan utara.

Di daerah ini juga terdapat penyadapan air yang dibangun sejak Desember 1921, dikenal dengan sebutan Gedong Tjai Tjibadak 1921. Sampai sekarang masih berfungsi dan dikelola PDAM Tirtawening, namun debit airnya semakin berkurang.

Seperti diketahui, keberadaan puluhan séké di Cidadap tersebut ditunjang oleh “hutan kota” yang berperan sebagai greenbelt Kota Bandung di sebelah utara. Di sana tumbuh beragam jenis flora dan fauna. Seperti  pohon bambu yang mencapai setidaknya 50 jenis , pohon kawung, loa, cangkring dan lain-lan, serta fauna seperti elang, kobra, séro, lasun, hahayaman dan berbagai jenis unggas lainnya.

Namun kini, kawasan konservasi tersebut semakin menipis, apalagi ada rencana pembangunan pesantren internasional yang diinisiasi oleh Uu Ruzhanul Ulum, “Panglima Santri Jawa Barat” yang juga Wakil Gubernur Jawa Barat di kawasan konservasi tersebut dengan nama Al Ruzhan.

Film ini pun telah diluncurkan pada hari Sabtu, 06 November 2021. Bertempat di Bandung Creative Hub (BCH) Kota Bandung.

Silakan baca: Inilah 6 KEK Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Adapun para pengisi acara diantaranya Ferry Curtis & Sakti Curtis, Isa Perkasa, Doddy kiwari,Rinrin Chandraresmi, Rian Suherman, Oki Nurtahyudin, Irwan Zabonk. Diisi pula sesi diskusi dengan moderator Hawe Setiawan (Budayawan), serta menampilkan para pembicara, antara lain Kadis Budpar Kota Bandung Dewi Kaniasari dan T. Bahtiar (Pakar Gelogi).*