Fakta-Fakta Menarik Gedung Sate yang Kini 101 Tahun

gedung sate
Gedung Sate berusia 101 tahun pada 27 Juli 2021. (Helmy).*

 

Gedung Sate memiliki sejumlah fakta menarik di balik kemegahannya. Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia (het mooiste gebouw van Indonesia), tulis D. Ruhl dalam bukunya “Bandoeng en haar Hoogvlakte” tahun 1952. 

 

BandungKlik – Bagi masyarakat Jawa Barat, keberadaan Gedung Sate yang saat ini menjadi kantor pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan kebanggaan tersendiri. Hari ini 101 tahun lalu, 27 Juli 1920, gedung ini mulai dibangun seturut rancangan tim arsitek dari Belanda.

Perencanaan aset bersejarah ini dibuat secara matang oleh tim yang dipimpin Kol. Purn. V.L. Slors. Anggotanya Ir. J. Berger, arsitek muda kenamaan Eh. De Roo dan G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng.

Gedung Sate di Jalan Diponegoro Kota Bandung ini ternyata punya fakta menarik yang mungkin belum banyak orang tahu. Apa saja? Yuk, simak uraian berikut ini:

Bangunan proyek pemindahan ibu kota

Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai ibu kota di negeri jajahannya. Pemilihan kota ini didasarkan pada pertimbangan iklim Bandung yang sejuk plus panorama yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat itu senyaman Prancis selatan ketika musim panas. Bangunan Gedung Sate—dulu namanya Gouvernements Bedrijven, termasuk salah satu yang masuk dalam proyek pemindahan ibu kota dari Batavia. Bangunan induk gedung ini selesai pada 1924.

Peletakan batu pertamanya oleh seorang gadis

Biasanya peletakan batu pertama dalam sebuah seremonial dilakukan oleh pejabat atau pimpinan tertinggi. Namun, tidak dengan Gedung Sate. Pada 27 Juli 1920, peletakan batu pertama justru dilakukan oleh seorang gadis. Ia adalah Johanna Catherina Coops, yaitu putri sulung Wali Kota Bandung B. Coops, dan Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal di Batavia.

Silakan baca: Gedung Sate Pembangunannya Habiskan 6 Juta Gulden

Memadukan arsitektur langgam Timur dan Barat

Berdasarkan data, arsitektur Gedung Sate adalah hasil pilihan Pemerintah Belanda terhadap usul rancangan para arsitek. Saat itu, karya arsitek Ir. J. Berger dan rekan yang terpilih. Pilihan itu tak lepas dari masukan pendapat maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage.

Gaya arsitektur mengarah pada bentuk arsitektur Indo Eropa yang memadukan wajah Timur dan Barat ditopang teknik konstruksi maju dari Barat. Gedung anggun ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia masa renaisans dan menara bertingkat mirip pagoda.

Halaman gedung sempat jadi pusara

Fakta Gedung Sate lainnya adalah menjadi saksi tujuh pemuda yang gugur akibat serangan pasukan Gurkha. Peristiwa upaya mempertahankan kemerdekaan itu terjadi pada 3 Desember 1945. Jenazah ketujuh pemuda dimakamkan oleh pihak musuh di halaman gedung tersebut.

Pada Agustus 1952 ditemukan tiga jenazah, yakni Suhodo, Didi, dan Muchtarudin lalu dimakamkan kembali di makam pahlawan Cikutra. Jenazah keempat pemuda lainnya tak ditemukan. Untuk mengenang tujuh pemuda itu, dibuat monumen dari batu dan diletakkan di halaman depan Gedung Sate. *

Silakan baca: Gedung Sate Diserbu Tentara Sekutu