Djuanda Kartawidjaya, “Menteri Marathon” dan PM Terakhir

djuanda kartawidjaya
Djuanda Kartawidjaya. (tahurabandung.com).*

 

BandungKlik – Deklarasi Djuanda tahun 1957 adalah salah satu sumbangan terbesar dari seorang Djuanda Kartawidjaya bagi Indonesia. Negarawan kelahiran Tasikmalaya 14 Januari 1911 ini juga dikenal sebagai “Menteri Marathon” dan Perdana Menteri (PM) ke-10 di negeri ini.

Djuanda Kartawidjaya adalah seorang lulusan terbaik Civil Engineering (insinyur sipil) di Technische Hogeschool Bandung (sekarang ITB) tahun 1933. Ia diangkat sebagai staf ahli pada Jawatan Pengairan Provinsi Jawa Barat yang berkantor di Kramat Jakarta pada 1939.

Salah seorang negarawan yang dekat dengan Djuanda adalah Oto Iskandar Dinata. Atas saran Oto—anggota Volksraad (Dewan Rakyat), Djuanda bergabung ke Paguyuban Pasundan. Paguyuban ini menjadi satu-satunya “sekolah politik” bagi Djuanda. Sebab, ia tak memilih dan terlibat langsung dalam kegiatan partai politik.

Setelah Indonesia mereka, karier Djuanda menuju kursi pemerintahan seakan-akan tak ada rintangan. Pada 1946, saat menginjak usia 35 tahun, ia sudah memangku jabatan di kabinet. Dalam Kabinet Sjahrir II itu, ia dipercaya menjabat Menteri Muda Perhubungan. Selanjutnya, setiap peralihan kebinet ia hampir selalu diangkat dan meneruskan jabatan menteri yang berbeda-beda.

Dari 21 kabinet yang dibentuk 1945 hingga 1963, Djuanda mengambil bagian sebanyak 14 kali. Selain pernah menjabat Menteri Perhubungan, ia sempat pula menjadi Menteri Komunikasi dan Menteri Pekerjaan Umum. Jabatan lainnya adalah Menteri Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Pertahanan.

Silakan baca:

Dewi Sartika, Merevolusi Tradisi Perempuan Pribumi

Di dalam kabinet, jabatan tertinggi Djuanda adalah Perdana Menteri (1957 – 1959) dan Menteri Pertama (1959 – 1963) yang ditunjuk langsung Presiden Soekarno. Djuanda adalah perdana menteri ke-10 sekaligus terakhir di negeri ini.

Lantaran terus-menerus beroleh jabatan menteri, sejumlah surat kabar ibu kota tahun 1960-an menjulukinya “Menteri Marathon”. “Ia duduk di hampir semua kabinet dan seorang nonpartai sampai akhir hidupnya,” tulis harian Merdeka (8/11/1963).

Dikutip dari tahurabandung.com, pada 7 November 1963 Djuanda Kartawidjaya wafat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Atas jasa besar semasa hidupnya, ia diangkat sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 244 tahun 1963. Namanya diabadikan sebagai nama taman hutan raya di Bandung—Taman Hutan Raya Djuanda, sebagai taman hutan raya pertama di Indonesia.

Namanya diabadikan pula untuk nama bandar udara di Surabaya Jawa Timur yaitu Bandara Djuanda. Tak hanya itu, foto dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan Rp 50 ribu. *

Silakan baca:

Iwa Kusuma Sumantri, Pilih Radikal Ketimbang Amtenar