Dewi Sartika, Merevolusi Tradisi Perempuan Pribumi

Dewi Sartika
Salah satu patung dada Dewi Sartika ditempatkan di halaman Museum Kota Bandung, Jalan Aceh Kota Bandung. (Irwan Akhmad). *

 

BandungKlik – Rd Dewi Sartika bukan hanya bercita-cita mengangkat derajat kaum perempuan Indonesia tetapi mewujudkannya dalam bentuk nyata yaitu Sakola Kautamaan Istri. Cintailah dan teladani perjuangannya, jangan sampai ada perempuan yang tertindas lagi. Demikian diutarakan Pengurus Yayasan Dewi Sartika Yuceu Suhaya, tempo hari.

Di zaman Belanda, mendirikan sekolah kaum perempuan enggak cuma butuh keberanian, melainkan perlu keuletan dan jiwa kepahlawanan yang luar biasa seperti Dewi Sartika. Memang bukan hal aneh di masa kolonial, kaum perempuan di tanah air boleh dibilang masih “terpinggirkan”. Dulu, menjalani rumah tangga masih memegang teguh tradisi yang menganggap perempuan tak usah pintar. Jadinya, bagi perempuan pribumi bersekolah seolah tabu.

Oleh karena tradisi itu kesadaran Dewi Sartika muncul, keadaan tersebut dapat membahayakan nasib kehidupan kaum perempuan. Uwi—panggilan akrabnya, mengajarkan segala macam keterampilan perempuan kepada sanak kerabatnya seperti merenda, memasak, menjahit, juga membaca dan menulis, berhitung serta bahasa Belanda di belakang tempat tinggalnya sejak usia 18 tahun.

“Tekad dan keyakinan Dewi Sartika, kaum perempuan pribumi harus memperoleh pendidikan. Apalagi, beliau merasakan dan menyaksikan sendiri betapa perlakuan sangat berbeda antara pendidikan perempuan dan laki-laki waktu itu. Perempuan harus mandiri,” kata Yuceu menerangkan.

Sakola Perempuan

Ketika menginjak usia 20 tahun, Uwi mendirikan sekolah khusus untuk perempuan. Namanya Sakola Istri, sekolah yang bertujuan membebaskan perempuan pribumi dari ketidakmandirian dan kebodohan. Kehadiran sekolah yang didirikan 16 Januari 1904 tersebut tentu saja menjadi sebuah revolusi besar. Tradisi perempuan tak usah pintar itu perlahan terkikis.

Dengan 60 siswi dari masyarakat kebanyakan, kegiatan belajar sebermula bertempat di ruang Paseban Wetan di Kompleks Pendopo Bupati Bandung RAA Martanegara. Kemudian pindah ke Ciguriangweg dan berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri pada 1910. Meski dianggap sebagai putri “pemberontak” oleh Pemerintah Hindia Belanda, ternyata pendirian Sakola Istri justru didukung Inspektur Pengajaran Wilayah Kabupatian Bandung Cornelis Den Hammer.

Bagai dua sisi mata uang, bicara sekolah perempuan maka tak pernah bisa lepas dari sosok sentral Dewi Sartika. Sebagai satu-satunya perempuan dari Jawa Barat yang menjadi pahlawan nasional, Sakola Istri yang didirikannya adalah sekolah khusus bagi kaum perempuan pertama sekaligus tertua di Indonesia.

Hingga kini, bangunan asli sekolah peninggalan Dewi Sartika di Jalan Kautamaan Istri No. 12 Kota Bandung yang terdiri dari enam kelas itu masih dipertahankan dan digunakan sebagai ruang belajar siswa SMP. Satu dari enam kelas tersebut dijadikan “museum”. *

Rd Dewi Sartika

Lahir      : Bandung, 4 Desember 1884

Wafat    : Ciamis, 11 September 1947

Ayah      : Rd Rangga Somanagara

Ibu         : Rd Ayu Rajapermas

Suami   : Rd Agah Soeriawinata

Silakan baca:

Gedung Sate Diserbu Tentara Sekutu