Debus, Seni Budaya Banten Bernuansa Islam

Atraksi debus. (Irwan Akhmad/ BandungKlik).*

 

BandungKlik – Debus sejak dulu dikenal sebagai kesenian tradisional dari Provinsi Banten yang memanifestasikan kekuatan tubuh.

Tak dimungkiri, masyarakat luas mengenalnya sebagai atraksi yang menyeramkan. Sudah bukan rahasia, para pemain kesenian ini kerap mempertontonkan aksi yang melukai diri sehingga dianggap dekat dengan ilmu hitam.

Ini memang identik dengan atraksi yang menampilkan ilmu kekebalan tubuh terhadap sentuhan senjata atau benda tajam/ berbahaya atau pukulan benda keras.

Akan tetapi, tunggu dulu, menurut Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Jawa Barat ternyata kesenian debus mulanya ditampilkan sebagai sarana menyebarkan agama Islam. Waktu itu, sekira abad ke-16, masyarakat setempat masih memercayai kebiasaan nenek moyang sebagai agama mereka.

Atraksi yang paling terkenal adalah mengiris bagian tubuh tertentu dengan senjata tajam, seperti golok. Atraksi ini juga sering menampilkan seseorang dengan besi runcing di bagian perutnya yang dipukul menggunakan palu besar. Anehnya, para pemainnya tidak terluka sama sekali.

Pada perkembangannya, debus digunakan sebagai media untuk memompa semangat rakyat Banten dalam menghadapi penjajahan Belanda pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Beberapa waktu, seni tradisi ini sempat menghilang seiring dengan melemahnya Kasultanan Banten di bawah kekuasaan Sultan Rafiudin. Oleh karena itu, debus tidak lagi dipertontonkan kepada masyarakat.

Sarana hiburan

 

debus banten
Atraksi debus. (Irwan Akhmad/ BandungKlik).*

Pascakemerdekaan Indonesia, seni tradisi ini kembali muncul pada dekade 1960-an sebagai sarana hiburan. Selain itu, masih ada nama lain untuk menyebut kesenian yang serupa, yakni Al Madad yang dipandang sebagian orang sebagai cikal bakal debus.

Sampai saat ini, kesenian debus dihidupkan dan dikembangkan di paguron atau padepokan dan sanggar silat dengan aliran yang berbeda-beda. Sedikitnya ada tiga karakteristik yang berkembang, yaitu cimande, bandrong, dan terumbu.

Saat debus atraksi, ada sejumlah tahapan yang dilakukan para pemainnya.

  1. Menyiapkan peralatan dan memeriksa arena pertunjukan.
  2. Guru besar memanjatkan doa untuk kelancaran pertunjukan tersebut.
  3. Memainkan tetabuhan pengiring untuk mengundang penonton agar mendekati arena pertunjukan.
  4. Menampilkan atraksi silat untuk menghangatkan suasana, mulai dari sekadar ibing biasa hingga padungdung.
  5. Para pemain menampilkan debus, mulai dari atraksi yang paling ringan hingga puncaknya yang paling berbahaya. *

 

Silakan baca: 

Seni Reak, Antara Menghibur dan Kesurupan

Lais, Seni Akrobatik Tradisional Asal Garut