BandungKlik – Kabupaten Buleleng memiliki danau alami yang memesona, berbalut kisah masa lampau yang menarik. Tempat itu bernama Danau Tamblingan, yang merupakan satu dari tiga danau kembar di Buleleng, Bali. Dua lainnya, yaitu Danau Buyan dan Danau Beratan.

Danau Tamblingan mempunyai pesona keindahan alam dan fenomena mentari terbit yang mengagumkan. Ditambah hawa sejuk, hutan hijau mengelilingi, dan sejumlah bangunan pura yang membuat suasana semakin eksotis.

Lokasi danau ini berada di lereng sebelah utara Gunung Lesung. Kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.

Alam sekitarnya masih terjaga kelestariannya. Termasuk bangunan-bangunan pura yang menyimpan sejarah perkembangan peradaban Bali. Terutama berkenaan dengan pembentukan dan perkembangan Desa Tamblingan.

Di sana wisatawan dapat menikmati pesona alami yang menyejukkan dan indah. Terlebih saat pagi hari, pesonanya semakin eksotis. Hamparan danau berbalut kabut terkena pancaran cahaya mentari dengan siluet bangunan pura.

Silakan baca: Inna Bali Heritage Hotel, Akomodasi Wisata Tertua di Bali

Kondisi itu pun mengundang banyak pemburu foto instagenik yang eksotik berdatangan. Bahkan sejumlah fotografer menempatkan Danau Tamblingan sebagai spot foto pre wedding terbaik.

Kisah Menarik

Kawasan Tamblingan melekat dengan kisah tragis dari penduduk yang pernah bermukim di sini. Pada abad 10M sampai 14M, lingkungan Danau Tamblingan merupakan sebuah pemukiman. Dengan pusatnya berada di Gunung Lesung sebelah selatan danau.

Kala itu, kampung tersebut terserang wabah penyakit hingga memaksa para penduduknya berpindah ke empat daerah berbeda. Namun wabah masih tetap berlangsung.

Sebagai solusi atas musibah tersebut, seseorang yang disucikan lalu turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil air danau sebagai obat. Dengan doa dan kemampuan spiritual orang tersebut, air itu pun mampu menyembuhkan masyarakat desa.

Tempat baru penduduk itu pun kemudian disebut Catur Desa yang berarti empat desa. Terdiri dari Desa Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero. Jaraknya pun tak jauh dari areal danau. Semua desa ini memiliki ikatan spiritual dan memiliki tanggung jawab serta kewajiban untuk menjaga kesucian danau dan pura yang ada di sekitarnya.

Akhirnya hingga kini, Danau Tamblingan diyakini sebagai tempat suci oleh warga sekitar. Banyak ritual-ritual adat berlangsung di tempat ini sebagai penghormatan kepada leleuhur. Maka tak heran, kawasan danau ini tak dikembangkan secara modern.

Nama Tamblingan sendiri berasal dari dua kata dalam Bahasa Bali, yaitu ‘Tamba’ berarti obat, dan ‘Elingang’ yang berarti ingat atau kemampuan spiritual. Kata Tamba dan Elingang inilah lama kelamaan menjadi Tamblingan.

Silakan baca: Ranu Klakah & Ranu Pakis, Dua Danau Indah di Lumajang

Kesakralan wilayah ini pun tampak dari keberdaan 11 pura di sana. Antara lain Pura Dalem Tamblingan, Pura Endek, Pura Ulun Danu dan Sang Hyang Kangin, serta Pura Sang Hyang Kawuh. Lalu ada lagi Pura Gubug, Pura Tirta Mengening, Pura Naga Loka, Pura Pengukiran (Pengukusan), Pura Embang, Pura Tukang Timbang, dan Pura Batulepang.

Istimewanya, Pura Embang dan Pura Tukang Timbang yang merupakan kawasan Pura kecil terbuat dari batu “bebaturan”. Diperkirakan pura ini, peninggalan masyarakat pra Hindu yang telah bermukim di sana sebelum abad 10M.*

 

Sumber: dispar.bulelengkab