Danau Limboto Kaya Keragaman Hayati Burung Langka

burung langka danau limboto
Kawanan burung migran mendatangi Danau Limboto di Gorontalo. (dok. Rosyid Azhar).*

 

BandungKlik – Danau Limboto di Provinsi Gorontalo kaya akan keragaman hayati terutama bangsa burung. Selain dihuni burung-burung lokal dan langka, danau yang memiliki luas mencapai 2.500 hektare ini juga acapkali kedatangan burung-burung migran.

Pegiat fotografi alam bebas dari Gorontalo Rosyid Azhar mengatakan, di Danau Limboto juga banyak ditemukan burung-burung langka dan dilindungi. Sebut saja antara lain elang dan burung madu.

“Meski Limboto bukan termasuk kawasan lindung tetapi di sana banyak satwa yang dilindungi antara lain burung seperti jenis burung madu,” kata Rosyid saat dijumpai di Kota Bandung, tempo hari.

Dikatakannya, di Danau Limboto telah ditemukan sedikitnya 94 jenis burung danau. Sebanyak 38 jenis adalah burung migran yang datang terbang dari sejumlah daerah mancanegara seperti Siberia, Alaska, Jepang hingga Australia.

Burung-burung tersebut biasa dijumpai antara bulan Agustus hingga Oktober akhir. Mereka terbang bebas di atas permukaan Danau Limboto ketika di negara asalnya memasuki musim dingin.

“Burung-burung migran itu datang biasanya untuk berkembang biak saat di Siberia dan Alaska musim dingin. Mereka datang melalui jalur terbang Austroasia,” ujar Rosyid.

Silakan baca:

Mencoba 5 Aktivitas Seru Ekowisata di Sumatera Utara

Salah seorang pendiri Biodiversitas Gorontalo (Biota) itu mengatakan, selain kaya akan keragaman hayati, Danau Limboto punya potensi pariwisata yang luar biasa. Akan tetapi, kata dia, hingga saat ini masih banyak pihak termasuk pemerintah yang memandang Danau Limboto hanya sebagai kawasan produksi perikanan tangkap dan budidaya.

“Keragaman hayati ini adalah potensi besar pariwisata. Ada transfer pengetahuan dan experience. Wisatawan bisa menikmati pemandangan yang indah, udara yang sejuk dan aneka burung air. Burung-burung residen seperti kuntul, cangak merah adalah penghuni tetap dan bisa disaksikan tiap hari sepanjang tahun,” ucapnya.

Selain itu, kata dia mengimbuhkan, ada juga jenis elang bondol, elang paria dan elang hitam.

Akan tetapi, di sisi lain Rosyid menyebut, ekosistem perairan dangkal tersebut terancam. Sampah, perburuan burung hingga perilaku buruk masyarakat menjadi beberapa faktor penyebabnya. Oleh karena itu, kerja sama kelembagaan yang dilakukan Biota diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kelestarian ekosistem Danau Limboto.

“Salah satu yang kami lakukan ke depan adalah pendampingan terhadap masyarakat akan pentingnya ecotourism. Kemudian membantu mengidentifikasi potensi danau termasuk burung,” ujar Rosyid, menutup pembicaraan. *

Silakan baca:

Pesona Labuan Bajo Tak Hanya Komodo