Calung, Alat Musik Tradisional Sunda Berbahan Bambu

Alat Musik Calung
Seseorang sedang memainkan calung jingjing saat pertunjukan.

 

BandungKlik – Selain angklung yang sudah sohor, alat musik tradisional khas Sunda (waditra) yang berbahan bambu lainnya yakni Calung. Waditra tersebut termasuk jenis alat musik dipukul.

Awalnya, waditra ini merupakan seni “kalangenan” (bersifat hobi). Namun pada perkembangannya, calung telah menjadi seni pertunjukkan yang populer. Terutama di era 90-an ke belakang.

Istilah calung berasal dari kata ca dari kata ‘maca’ (baca) dan lung dari kata ‘linglung’ (bingung). Pada masa lampau, waditra calung disajikan sebagai alat mandiri (tunggal) dan biasa dimainkan di tempat-tempat sepi oleh orang-orang yang sedang menunggu padi di ladang ataupun sawah.

Bagi orang yang memainkannya, calung merupakan musik pelipur lara atau pelipur hati yang sedang bingung (haté nu keur liwung). Alat musik calung ini pun memiliki beberapa jenis, di antaranya:

Calung Rantay

Merupakan jenis calung yang terdiri dari bilah-bilah bambu sebanyak 10 batang. Lalu dipasang dengan cara dideretkan dengan mempergunakan ikatan-ikatan tali.

Silakan baca: 5 Alat Musik Tradisional Asli Indonesia yang Mendunia

Calung Gambang

Jenis waditra ini hampir sama dengan Calung Rantay, perbedaannya terletak pada cara pemasangan bilah-bilah bambu yang ditempatkan pada ancak/standar, seperti waditra Gambang.

Calung Jingjing

Jenis yang satu ini, setiap rumpungnya (rangkaian bilah-bilah bambu) ditampilkan dengan cara digantung, lalu saat dimainkan dipegang dengan tangan sebelah kiri. Tanpa mempergunakan ancak atau standar.

Calung Jingjing terdiri dari 4 rumpung bentuk. Rumpung terkecil pertama disebut Kingking berfungsi sebagai melodi. Rumpung kedua disebut Panempas yang berfungsi sebagai pemberi variasi pada arkuh lagu. Calung ketiga disebut Jongjrong berfungsi sebagai arkuh lagu, dan Calung keempat yang berukuran paling besar disebut Gonggong berfungsi sebagai kempul dan goong.

Jenis Calung Jingjing menjadi yang paling populer dan sering digunakan dalam seni pertunjukan. Waditra jenis ini merupakan bentuk perkembangan dari Calung Rantay dan Calung Gambang yang dikembangkan secara kreatif oleh Ekik Barkah, Parmas dan kawan-kawan yang merupakan aktifis Departemen Kesenian UNPAD Bandung, tahun 1960.

Seiring perkembangan zaman, calung pun turut berkembang. Bukan hanya pada bentuk waditranya, namun penampilannya pun telah berkembang menjadi seni pertunjukan yang bersifat tontonan atau hiburan.

Silakan baca: Sanggar Waditra Bandung, Lestarikan Karawitan Sunda

Bentuk seni pertunjukan calung yang populer telah dilengkapi dengan vokal atau lagu, dialog antar pemain, gerakan dan atraksi lucu, dan lawakan-lawakan yang mengundang gelak tawa para penontonnya.*

 

Sumber & Foto: Disbudpar Kota Bandung