BandungKlik – Embargo perdagangan yang dilakukan Kekaisaran Turki Usmani pada 1453 mendorong para penjelajah Eropa mencari asal usul pala.

Informasi penting yang berkembang saat itu bahwa rempah tersebut berasal dari negeri dongeng alias fabled land. Rute ke timurlah yang menjadi tujuan mereka, mencari buah emas yang kerap menjadi hidangan di atas meja para bangsawan.

Penjelajah asal Italia Christoper Columbus mencoba peruntungan dengan berlayar menyeberangi Samudera Atlantik untuk mencari jalan ke India. Vasco da Gama—navigator ulung dari Portugis—menyusul berlayar mengitari Tanjung Harapan pada 1497. Ia, bahkan bersama krunya turun dari kapal seraya menangis berteriak “For Christ and spices!” (Untuk Tuhan dan rempah-rempah).

Lain ceritanya dengan Alfonso de Albuquerque. Dikutip dari indonesia.go.id, pelaut asal Portugis itu menyerang pulau-pulau di Kepulauan Maluku, termasuk Banda pada 1511. Ia bersama kru kapalnya membangun benteng-benteng untuk mengonsolidasikan monopoli atas perdagangan pala hingga seratus tahun kemudian.

Tercium VOC

Harum rempah Banda tercium pula oleh bangsa Belanda. Pada 1605, mereka datang untuk mengusir Portugis setelah menaklukkan Ambon. Demi monopoli perdagangan pula, Belanda—dalam hal ini Verenigde Oost – Indische Compagnie (VOC)—membangun pos perdagangan di Banda.

Saat itu, VOC membuat perjanjian dengan penduduk Banda yang mengharuskan mereka menjual pala dan bunga pala hanya kepada VOC secara eksklusif. Namun, penduduk Banda masih tetap menjual hasil bumi mereka kepada pedagang dari Jawa, Makassar, dan Inggris.

Inggris pun turut “berburu”

Meskipun terikat perjanjian—yang notabene berat sebelah—bukan berarti suasana damai selalu menyelimuti VOC. Terbukti pada 1609, bukan ketenteraman yang mereka dapat, melainkan ketegangan yang kian meruncing.

Admiral Verhoeff dari Belanda, bahkan harus meregang nyawa ketika bernegosiasi dengan penduduk Banda. Berkaca dari insiden tersebut, VOC tetap berusaha menggunakan kekuatan dan diplomasi demi memperoleh kekuasaan mutlak atas Banda kemudian.

Seiring dengan upaya itu, Inggris datang untuk mendirikan koloni di pulau-pulau terpencil, yaitu Pulau Run dan Ay pada 1616. Mengetahui kehadiran tamu tak diundang, VOC mulai merasa terancam. Mereka pun menganggap Inggris akan menyingkirkan mereka dan memonopoli rempah mahal tersebut.

Akan tetapi, angin segar masih mengiringi perdagangan VOC. Berselang lima tahun, perusahaan ini berhasil menguasai Banda dengan cara mengirim lebih dari 2 ribu tentara dari Batavia (Jakarta). Pasukan yang dipimpin Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen itu demikian kejam, membunuh penduduk Banda, dan melakukan perbudakan pertama di Nusantara.

Dalam kurun 50 tahun, Belanda dan Inggris terlibat dalam pertempuran. Penyebabnya, Belanda ingin sepenuhnya menguasai Kepulauan Banda. Namun, di satu sisi, masih ada Inggris di Pulau Run dan Ay. Akhirnya, pada 1667 mereka sepakat untuk tukar guling dalam Perjanjian Breda.

Apa isi perjanjian itu? Inggris bersedia memberikan Pulau Run kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan Pulau Manhattan di New York. Alhasil, perjanjian tersebut memuluskan monopoli VOC (Belanda) atas perdagangan pala di seantero jagat.

Hancurnya monopoli VOC

Seiring waktu—setelah berhasil mencapai rencananya—VOC menjelma menjadi perusahaan dagang terbesar di dunia. Dua tahun setelah Perjanjian Breda, VOC mampu membayar dividen tahunan sebesar 40%. Perusahaan didukung 50 ribu karyawan, 10 ribu tentara, dan 200 kapal besar yang sebagian besar kapal perang.

Bertahun-tahun Belanda berhasil mengamankan monopoli perdagangan buah bernama ilmiah Myristica fragrans dengan merahasiakan lokasi Pulau Banda. Tak hanya itu, mereka pun memandulkan biji-biji pala yang dijual agar tidak dapat dibudidayakan pihak pembeli.

Akan tetapi, pada 1769 petaka menghampiri VOC sekaligus menjadi awal kehancuran monopolinya. Seorang ahli hortikultura dari Prancis bernama Pierre Poivre berhasil mencapai Pulau Banda. Kecerdikannya, bahkan mampu menyelundupkan buah pala dan bibit-bibit pohonnya kemudian menanamnya di Mauritius, negara koloni Prancis.

Kedatangan Prancis rupanya membuka kembali “jalan” Inggris sehingga berhasil menguasai Banda pada 1796 hingga 1802. Inggris juga sukses mengembangkan perkebunan komoditi kelas atas tersebut di Penang dan Singapura serta daerah jajahan mereka lainnya. Salah satu jajahan Inggris paling lama, yaitu Pulau Grenada di Karibia, bahkan pernah menjadi pengekspor pala terbesar di dunia. *

 

Silakan baca:

Sekelumit Kisah Pala, “Buah Emas” Rebutan Dunia

7 Rempah Termahal di Dunia dengan Harga Fantastis