Bontang Kuala, Desa Wisata Pertama di Kalimantan Timur

Desa Wisata Bontang Kuala
Suasana di Desa Wisata Bontang Kuala. (Shutterstock/DanielChang76 via Kemenparekraf)

 

BandungKlik – Selain terkenal akan kekayaan industri migas dan kondesatnya, Kota Bontang di Kalimantan Timur (Kaltim) juga memiliki potensi besar di pariwisata. Salah satunya potensi desa wisata Kampung Laut Bontang Kuala.

Predikat Kampung Laut Bontang Kuala sebagai desa wisata tersebut, lahir berkat aktivitas warganya yang masih menjaga keberlangsungan adat, kegiatan budaya, religi, serta hubungan kekerabatan khas nelayan Suku Bugis.

Daya tarik lainnya, topografi Bontang Kuala yang terletak pada transisi darat ke laut. Struktur hunian panggung dengan jalan dek kayu, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung.

Dilansir laman Kemenparekraf, menurut data Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Bontang, setiap tahun terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke Kampung Laut Bontang Kuala sejak 2011. Puncaknya terjadi pada 2019 lalu, tercatat angka kunjungan mencapai 30 ribu wisatawan sebelum dihantam pandemi COVID-19.

Di desa wisata yang berada di wilayah timur Kota Bontang atau pesisir barat Selat Makasar ini, terdapat dua hal penting dan menarik. Diantaranya aktivitas manusia yang berada di atas perkampungan laut dan spot berwawasan lingkungan berupa kawasan konservasi mangrove.

Silakan baca: Desa Bena di NTT, Sudah Ada Sejak 1200 Tahun Lalu

Akses aktivitas orang-orang di sana, melalui jalan di sepanjang permukiman warga berupa jembatan kayu terpanjang. Semua tiang hingga papan jembatan dibuat dari kayu ulin, satu jenis pohon kayu khas Kalimantan.

Wisatawan juga semakin dimudahkan dengan pembenahan akses jalan kendaraan roda empat, perluasan lokasi parkir, dan pembangunan terminal yang terletak di depan pintu masuk permukiman Bontang Kuala.

Kini tersedia pula resort yang bisa disewa bagi pengunjung yang berminat bermalam di destinasi wisata bahari tersebut. Dapat juga membeli ragam produk ekonomi kreatif kuliner atau kriya di kios-kios yang dikelola masyarakat setempat.

Tentu saja hal itu tak hanya memuaskan wisatawan yang datang, namun juga memberi pemasukan tambahan bagi penduduk Kampung Laut Bontang Kuala. Serta meningkatkan sektor ekonomi bagi destinasi wisata setempat.

Bontang Kuala sebagai pelopor desa wisata di Kaltim, juga berpotensi menjadi kawasan ekowisata yang mendukung pelestarian lingkungan. Konservasi alam berupa hutan mangrove yang ada di sana sesuai dengan potensi dan daya dukung wilayah.

Silakan baca: Sitiwinangun, Desa Wisata Penghasil Gerabah

Konservasi mangrove ini merupakan bagian dari Taman Nasional Kutai yang  didiami beragam satwa. Seperti elang bondol, kuntul perak, raja udang, bekantan, kera ekor panjang, dan sebagainya. Di dalamnya, disediakan jalan setapak sepanjang 3 kilometer. Dilengkapi menara pandang setinggi 20 meter.

Dari atas menara itu, wisatawan dapat melihat Selat Makassar secara langsung. Apalagi saat menjelang matahari terbenam. Senja yang muncul di antara pepohonan bakau, plus burung-burung endemik yang pulang ke sarang akan menjadi pemandangan yang menakjubkan.*