BandungKlik – Situs Benteng Oranje (Fort Oranje) di Ternate menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Maluku Utara yang erat kaitannya dengan kedatangan bangsa Barat. Wilayah ini dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti cengkeh yang menjadi komoditi berharga saat itu.

Wilayah di Maluku Utara yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah khususnya cengkeh, yaitu Pulau Ternate dan Tidore. Hal tersebut membuat menarik minat bangsa Barat untuk datang ke wilayah ini. Portugis dan Spanyol adalah dua bangsa awal yang datang ke Maluku. Awalnya, bangsa Barat ini hanya menjadi pembeli yang datang langsung untuk mencari rempah-rempah.

Akan tetapi seiring waktu dengan didorong oleh gerakan 3G (Gold, Glory, dan Gospel) mereka secara perlahan mulai menguasai wilayah Ternate dan Tidore. Spanyol, Portugis, dan VOC Belanda sempat memperebutkan wilayah ini bekerja sama dengan dua kerajaan besar di Ternate dan Tidore. Banyak benteng-benteng yang dibangun oleh Portugis, Spanyol, dan VOC Belanda untuk melancarkan tujuan mereka.

Tahun 1599 menjadi awal kedatangan dua kapal Belanda di bawah pimpinan Wijbrand van Warwijck di Ternate. Baru pada tahun 1605 VOC berhasil mengusir bangsa Portugis dari Ternate, namun setahun kemudian Ternate direbut oleh bangsa Spanyol.

Silakan baca: Benteng Tolukko Ternate Dibangun Portugis Tahun 1540

Selanjutnya pada tahun 1607 seorang Laksamana VOC bernama Cornelis Matelieff de Jonge membantu Sultan Ternate. Mereka pun berhasil mengusir bangsa Spanyol dari Ternate.

Pendirian Benteng Oranje Ternate

Atas keberhasilannya itu, Cornelis mendapat izin dari Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di tempat bekas Benteng Melayu milik Sultan yang sudah rusak. Pada tahun 1609 nama benteng tersebut diubah oleh Franćois Wittert menjadi Benteng Oranje atau Fort Oranje.

Bukan hanya izin membangun benteng, Sultan juga memberi izin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah. Hingga akhirnya mereka mengaku wilayah Maluku sebagai kedudukan resmi VOC.

Pengakuan tersebut terjadi pada 17 Februari 1613, saat Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama. Dengan Surat Keputusan pada 17 Februari 1613, Dewan Komisaris Heren Zeventien di Belanda menetapkan kawasan Maluku sebagai pusat kedudukan resmi VOC dan kota Ternate. Serta Kota Ambon (Amboina) menjadi pilihan tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal.

Silakan baca: Menjelajah Pulau Tawale, Pesona Alam Maluku Utara

Benteng Oranje pun dipakai sebagai tempat Pieter Both berunding dengan Sultan Mudaffar dari Ternate. Lalu pada 1822 benteng di Ternate ini pernah menjadi lokasi pengasingan Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Badarudin II (Sultan Palembang). Beliau diasingkan di benteng ini hingga meninggal dunia pada tahun 1852. Dimakamkan di kompleks pekuburan Islam di sebelah barat Kelurahan Kalumpang, Kota Ternate.*

 

 

Sumber & Foto: cagarbudaya.kemdikbud