Benjang Batok, Kesenian Buhun dari Pangandaran

Kesenian Benjang Batok Pangandaran
Penari dalam benjang batok sedang memainkan dua buah batok kelapa. (dok. desakertayasa.com)

 

BandungKlik – Selain sohor dengan wisata bahari, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat juga menyimpan ragam budaya, kearifan lokal, dan kesenian tradisional lainnya. Salah satunya kesenian Benjang Batok.

Dilansir laman tourism.pangandarankab.go.id, benjang batok merupakan kesenian buhun masyarakat Pangandaran. Berasal dari Dusun Karangpaci, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. Sekitar 1,5 km dari destinasi Green Canyon.

Nama kesenian ini diambil dari alat musik tradisional yang dipakai berupa batok atau tempurung kelapa. Dimainkan dengan cara memukul dua buah batok secara berirama, hingga menghasilkan nada yang khas.

Secara visual, kesenian tersebut merupakan kolaborasi dengan seni angklung dan irama musik gamelan Sunda, seperti kendang, gong, dan lainnya. Menampilkan sejumlah penari yang memegang dua buah batok lalu dipukulkan secara berirama sembari berlenggak-lenggok menari mengikuti irama.

Lagu yang dibawakan juga bertemakan sisindiran Sunda. Kesenian benjang batok kerap dipentaskan pada acara penyambutan para tamu yang hadir dalam upacara adat atau acara-acara tertentu.

Kini, kesenian tradisional tersebut dikembangkan salah satu sanggar seni Sunda di Pangandaran, yakni “Saung Angklung Mang Koko”. Sanggar seni yang identik dengan angklung ini didirikan pada 2008 oleh Koko Komarudin alias Mang Koko, seorang tokoh seni di Kabupaten Pangandaran.

Selain kesenian angklung dan benjang batok, Saung Angklung Mang Koko juga mempunyai seni tradisional lainnya, seperti seni kecapi suling, kesenian ronggeng gunung, celempungan, calung, prosesi karasemen adat, hingga kesenian badud.

Silakan baca: Lais, Seni Akrobatik Tradisional Asal Garut

Di sana juga, memproduksi angklung untuk souvenir dengan berbagai macam ukuran. Karya fenomenalnya berupa angklung raksasa berukuran 6 x 2 meter yang menjadi ciri khas sanggar seni tersebut.*