Bendung Lama Pamarayan, Terbesar Pertama yang Dibangun Hindia Belanda

Bendung Lama Pamarayan
Bendung Lama Pamarayan. (dok. kebudayaan.kemdikbud)

 

BandungKlik – Bendung Lama Pamarayan di Kabupaten Serang, Banten merupakan bendungan air terbesar pertama yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Dibangun pada tahun 1905 hingga 1925.

Kini bangunan bersejarah tersebut menjadi destinasi wisata sebagai spot foto yang menawan dan instagrammable. Bendung Pamarayan memiliki konstruksi bentangan sepanjang sungai disertai bangunan menara. Tedapat 10 pintu air, mirip dengan Bendung Pintu Air 10 di Kota Tangerang.

Gaya arsitekturnya merupakan imitasi dari bangunan kuil di Athena, Yunani (437-432 SM). Dengan pintu gerbang (gateway) mengusung prinsip konstruksi sebuah bukaan yang diapit kolom entablature.

Bangunan ini menerapkan arsitektur order yang berdenah empat persegi panjang. Kolom-kolomnya berbentuk persegi masif bersegmen (entablature) yang terkesan kokoh.

Berfungsi sebagai landasan plat-plat baja untuk membendung aliran air sungai. Kolom-kolom  tersebut bagian bawahnya berlorong untuk memudahkan akses ke bagian depan dan belakang bangunan pintu air.

Silakan baca: Keraton Kaibon, Istana Megah Ibunda Sultan Banten

Pada bagian atap bangunannya tidak memiliki pediment seperti pada kuil-kuil Yunani pada umumnya. Bagian ini berdenah asimetris berbentuk “salib melintang” dan memiliki gaya arsitektur Second Empire Baroque. Dengan tiga menara berbentuk square tower dan atap berbentuk kotak.

Puncak atap menara sebelah barat berbentuk datar, bertakik di setiap lerengnya serta bersegmen pada setiap sudutnya. Sedangkan puncak atap menara sebelah timur berbentuk seperti mahkota. Kedua menara ini terletak pada sayap bangunan dan menyatu dengan bangunan pintu air.

Bendung Lama Pamarayan Banten
Bangunan Bendung Lama Pamarayan yang memanjang.

Kemudian pintu air diapit rel yang membujur sepanjang bangunan. Sebagai akses untuk pengontrol kerusakan dan kegiatan perbaikannya.

Pintu Pembagi Air

Terdapat pula dua bangunan pintu pembagi air dengan bukaan berdekorasi geometris (belah ketupat). Masing-masing terletak di sebelah selatan ujung barat dan timur pintu air utama.

Bangunan sebelah barat memiliki 5 pintu air dan sebelah timur ada 2 pintu air. Berjarak kira-kira 500 m di sebelah utara dan selatan pintu air, terdapat 2 buah pengukur ketinggian air.

Saat ini, pengukur air di sebelah selatan masih terendam air. Sementara yang terletak di utara, areal di sekitarnya dipergunakan sebagai lahan pertanian masyarakat.

Silakan baca: Benteng Speelwijk, Jejak Kolonial Belanda di Tanah Banten

Sejak tahun 1997, bendung Lama Pamarayan sudah tidak dioperasikan lagi. Disebabkan faktor teknis, kondisinya telah rusak dan konstruksi bangunan telah lapuk termakan usia.

Selain itu, adanya proses pendangkalan sungai dan tekanan debit air yang mengalami penurunan. Oleh sebab itu, sejak tahun 1994-1997 dibangun Bendung Baru Pamarayan dengan sistem sudetan. Letaknya sekitar 1 km di sebelah barat daya Bendung Lama Pamarayan.*

 

 

Sumber: Dispar Prov. Banten