Bel Sepeda, Bukan Sekadar Bunyi Kring … Kring …

bel sepeda
Bel sepeda “ding dong” dengan kubah besar. (Irwan Akhmad/ BandungKlik).*

 

BandungKlik – Masih ingat lirik lagu anak “Kring … kring … gowes … gowes …”? Atau “Kring … kring … ada sepeda” ciptaan Pak Kasur? Begitulah kebanyakan orang menirukan bunyi bel sepeda: Kring …kring …

Bel sepeda umumnya berbentuk kubah. Meskipun bukan komponen utama dalam anatomi sepeda tetapi benda ini banyak dipasang untuk berbagai keperluan.

Secara umum, bel disebut sebagai aksesori berupa instrumen penanda layaknya klakson pada kendaraan bermesin. Sampai hari ini, bel lazim dipasang pada setang sepeda di dekat handvatten (handlegrip) baik sebelah kiri maupun kanan. Untuk pemasangannya dilengkapi clip dan sekrup.

Dikutip dari bicyclehistory.net, disebutkan bahwa bel sepeda pertama kali diperkenalkan oleh John Richard Dedicoat (1840-1903). Lelaki kelahiran Birmingham Inggris mematenkan penemuannya itu pada 1887.

Sebuah bel terdiri dari beberapa komponen mekanis bagian dalam seperti lever, hammer, pinion wheel, dome spring dan lever spring. Bagian yang tampak luar antara lain dome (penutup), base sebagai landasan komponen bekerja, dan tuas. Komponen itu hampir semuanya terbuat dari bahan logam.

Dome, base, tuas, dan bagian dalam bel sepeda. *

Untuk menghasilkan bunyi, biasanya tuas digerakkan dengan cara didorong ibu jari. Bunyi diawali oleh adanya gerak tuas yang terhubung langsung dengan komponen mekanis. Paduan gerak-putar mekanis dari komponen bagian dalam itulah yang kemudian menimbulkan bunyi. Bunyi ini berasal dari pukulan pada dome, lantas bergema.

Ragam bunyi

Ada pun bel yang lebih sederhana  hanya terdiri dari dome dan hammer. Bagian ini semuanya tampak dari luar.

Namun demikian, bunyi bel sepeda tak hanya “kring … kring …” Pada perkembangannya muncul beragam model bel dengan bunyi khasnya masing-masing. Sebut saja bel jenis revolving. Seperti namanya, kubah bel bisa berputar seraya menimbulkan bunyi yang relatif nyaring dan cepat dalam sekali putaran.

Ada juga yang tegas dan padat berbunyi “ting … tong …!”. Lalu “ding … dong …!” yang lebih bergema. Atau, bel berbunyi unik “koekoek!”, dan banyak lagi.

Meski dipasang pada sepeda milik pribadi, bel sesungguhnya ditujukan untuk orang lain di sekitar.

Oleh karena itu, bel bukan sekadar bunyi. Aksesori ini adalah penanda yang mengingatkan sekaligus memberitahukan kepada orang lain akan kehadiran si empunya. Di samping itu, bel juga kerap difungsikan sebagai media bertegur sapa saat berkendara. Bagaimana bunyi bel sepeda Anda? *

 

Silakan baca: Top 5 Manfaat Bersepeda untuk Kesehatan Fisik

Silakan baca: Jenis Olahraga Sesuai dengan Kelompok Usia