Asal Mula Peuyeum, Kudapan Masyhur Khas Bandung

peuyeum bandung
Peuyeum Bandung. (Irwan Akhmad/ BandungKlik).*

 

Bicara peuyeum atau tapai singkong tak lepas dari nama Bandung. Makanan ini sejak lama sudah menjadi kuliner khas kota ini, bahkan sejak zaman sebelum kemerdekaan.

 

BandungKlik – Rupanya, kudapan bertekstur empuk dan cita rasa yang asam dan manis ini punya cerita yang menarik. Lantas, bagaimana peuyeum ini bermula?

Terasa hampir di setiap pelosok Nusantara kala kolonialisme merajalela, beras sebagai bahan dasar nasi sangat sulit diperoleh masyarakat. Akan tetapi, sebaliknya, produksi singkong pada waktu itu justru melimpah sehingga masyarakat memanfaatkannya sebagai pengganti nasi.

Produksi yang melimpah tersebut tidak serta-merta semua memberi manfaat karena sebagian singkong yang belum dikonsumsi atau diolah menjadi busuk. Untuk menghindari itu, masyarakat mengolah singkong hasil dari kebun dengan teknik fermentasi menggunakan bahan ragi. Tujuannya, agar singkong bisa tahan lebih lama sehingga terciptalah peuyeum.

Tidak diketahui secara pasti, siapa yang pertama melakukan fermentasi pada singkong ini. Namun, keberadaan peuyeum dari dulu hingga sekarang tak bisa lepas dari nama daerah, yakni Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Buah tangan

Sebagai buah tangan, peuyeum hampir selalu hadir setiap hari untuk dijajakan terutama di destinasi wisata seperti Jalan Cihampelas, Kota Bandung.

Di kaki lima kawasan jalan ini, yaitu Teras Cihampelas, Peuyeum Haji Ohim tersaji dan siap disantap.

Rupanya, tapai singkong yang ditawarkan Haji Ohim adalah produksi sendiri di tempat asalnya, yaitu Cimenyan.

“Saya tak hanya  hanya menjual, tetapi juga menanamnya dan memilih singkong jenis mentega,” ujar Haji Ohim, beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, ia tahu betul singkong yang siap dipanen, diolah alias fermentasi dengan ragi nomor wahid sehingga hasilnya berkualitas sampai menjualnya. Inilah yang menjadi keunggulannya sejak mulai berjualan peuyeum tahun 1993 di Jalan Cihampelas, Kota Bandung.

Peuyeum berkualitas baik akan memiliki cita rasa yang sedap. Biasanya warnanya kekuningan dan empuk alias tidak keras. Oleh karena itu, banyak juga orang yang menyebutnya peuyeum Bandung si Madu.

Peuyeum Bandung dijual per kilogram dengan harga rata-rata Rp20.000. Peuyeum ukuran kecil atau besar harganya tak berbeda, tergantung selera pembeli yang kebanyakan wisatawan. Untuk jumlah besar, disediakan bongsang yang juga buatan sendiri.

Seiring perkembangan zaman, peuyeum juga banyak disajikan dengan cara yang berbeda, seperti colenak, bolen, donat, klapertart hingga es krim. *

 

Silakan baca:

Getuk Goreng Sokaraja, Tenar dari “Tak Sengaja”

Wajit Cililin, Sudah “Giung” Sejak Lahir